Sebuah malam yang
menyatukan segala jenis karakter siswa dari yang tampan, popular, pemalu, atlet
bahkan yang freak sekalipun. Itulah Prom.
Prom merupakan acara yang
sangat penting bagi anak sekolah, karena inilah malam terakhir mereka sebagai
siswa dan inilah terakhir kalinya mereka dapat berkumpul bersama dalam sebuah
ruangan. Setelah menempuh beberapa tahun bersama tentunya akan menyedihkan jika
berpisah tanpa adanya sebuah acara. Itulah yang dipesankan oleh film ini.
Bercerita tentang Nova (Aimee
Teegarden) seorang ketua panitia Prom
yang harus menyiapkan ulang perlengkapan acara Prom karena semua dekorasi prom
terbakar di gudang sekolah. Dalam menyiapkan ulang ini ia ditinggalkan oleh
panitia lainnya karena sudah mendekati persiapan masuk ke perguruan tinggi. Ia
dibantu oleh Jesse (Thomas McDonell) siswa rebel yang dihukum
kerena kelakuannya yang selalu telat dan pulang seolah lebih awal. Tiga minggu
tersisa untuk menyiapkan segalanya membuat Nova mau menerima bantuan dari
Jesse.
Dalam film ini
kemandirian dan kreativitas dari pelajar dalam menyiapkan prom amat ditonjolkan
karena semua dekorasi dibuat sendiri. Bintang, pemasangan lampu, gambar
dinding, semuanya. Tidak ada suasana yang mewah dalam promnya sendiri karena
hanya diadakan di aula sekolah dan tanpa makanan yang berlebihan, hanya snack dan minuman bersoda. Jauh berbeda
dengan adaptasi prom yang dilakukan di sekolah-sekolah Indonesia dimana Prom
diadakan di hotel mewah atau setidaknya dilakukan diluar sekolah.
PROM, film ini sangat lengkap dalam menjabarkan persiapan yang dilakukan oleh pelajar demi mengikuti Prom. Dari belanja gaun, menyiapkan Limousin dan pastinya mencari pasangan kencan. Berbelanja gaun memang bukan hal yang remeh bagi para perempuan, Nova mesti mencoba belasan gaun hingga ia akhirnya mendapatkan gaun yang cocok. Mei juga harus membuang gaunnya karena menganggap itu tidak akan bagus terlihat di Prom. Bahkan Rachel, si gothic, pun harus mencari referensi gaun yang cocok untuk dipakainya saat prom. Itu beberapa scene yang mewakili rumitnya persiapan dalam menghadiri Prom.
Mengajak seseorang ke Prom tidak seperti mengajaknya kencan biasa saja. Ini
acara spesial maka caranya pun harus istimewa. Layaknya lamaran untuk menikah,
ada yang menuliskan PROM? di badan
teman-temannya, ada yang di panggung teater, di depan rumah si gadis bahkan
menyiapkan makan malam istimewa. Semua itu demi mendapatkan jawaban YES dari si gadis. Its so pathetic if you don’t get a date to Prom, beginilah gambaran
betapa pentingnya prom bagi remaja di Amerika.
Betapa kecewanya Nova
ketika Brandon, pacarnya, mengajaknya hanya dengan bilang “kita harus datang lebih awal ke prom karena kita panitia prom”.
Hanya itu. Kekecewaannya digambarkan dengan scene
teriak sambil tengkurap di kasur untuk melepaskan stres. Betapa Frustasinya
Lloyld, si pemalu, ketika Prom makin dekat dia tak juga dapat teman kencan.
Nova harus menangis saat hingga malam Prom ia mendapati kenyataan bahwa tak ada
teman kencan yang akan menemaninya ke Prom. Semuanya seakan ada yang salah saat
mendekati Prom.
Tapi saat Prom, semuanya
harus bahagia. Llyold akhirnya mengajak adik tirinya untuk ke Prom, Nova pun
akhirnya bisa merasakan dansa terakhirnya di Prom bersama Jesse, Jesse yang
pada awalnya menganggap remeh Prom akhirnya bisa memahami makna Prom
sesungguhnya, kebahagiaan dalam kebersamaan. Sebagai film keluarga, PROM memang
haruslah memiliki happy ending.
Film buatan disney ini
memang ditujukan sebagai referensi bagi para pelajar dalam menyiapkan Prom,
juga mendeskripsikan apa itu prom bagi para siswa yang masih di tingkatan
sekolah dasar. Karena ratingnya yang 12+ itulah maka jangan harap untuk ada
adegan vulgar atau bahkan sekadar minum vodka dan semacamnya. Scene yang paling
vulgar di film ini adalah ketika adegan Jesse membuka bajunya dan mengenakan
singlet ketika mengangkat barang. Minuman paling ‘keras’ pun hanyalah minuman
bersoda. So, film ini cocok untuk jadi tontonan keluarga tanpa harus
menyingkirkan si kecil dari depan layar. J+b.jpg)
Posting Komentar